Iklan Atas Artikel
Temanku Lima Benua Sang Pelukis

Otoritasnews.co.id – Dunia seni rupa seolah dijadikan sebagai sarana mengekspresikan diri, hal ini terbukti dengan seniman yang bisa memberi suatu pesan dalam luapan kanvas. Memang harus diakui bahwa dunia seni rupa atau seni melukis boleh dibilang gampang-gampang susah.

Namun seorang remaja puteri asal Klaten, Jawa Tengah menganggapnya hal yang mudah. Bahkan hanya selesai dalam waktu dua menit saja.

Siswi SMA Negeri 3 Klaten Kelas 1 Jurusan Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) yang diketahui bernama Temanku Lima Benua itu mengaku dari pedagang pasarlah dirinya terinspirasi menjadi pelukis.

Advertise!Iklan Dalam Artikel

“Saya belajar tanpa guru, saya terinspirasi dari pasar Klaten, pasar dimana ibu saya berdagang,” ungkap Lima Benua saat ditemui Otoritasnews.co.id di sebuah Kedai Coffee di Jalan Biak, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Rabu (28/8/2019).

Menurut dia, belajar menjadi pelukis awalnya menggunakan kertas bekas dari percetakan dengan tinta yang terbuat dari arang.

“Saya sering melukis di kertas bekas percetakan dan Alhamdulillah bisa menambah kecepatan, sehingga bisa selesai dalam waktu dua menit. Kalau tidak dagangan ibu saya bisa hilang,” kenangnya.

Hasil Lukisan Wajah Wartawan Otoritasnews.co.id, Adam Rumbaru

Tidak disangka atas bimbingan ruang dan waktu, buah hati dari pasangan Hari dan Hidayati ini sontak menjadi pelukis, meski baru satu tahun, seni rupa ini sudah menjadi karakter dalam pola hidupnya sebagai seniman.

“Saya bersyukur sekali kepada Allah yang telah membimbing saya. Dan saya akan mengembangkannya terus hingga satu saat akan dikenang masyarakat Indonesia, utamanya masyarakat Klaten,” katanya berharap.

Temanku Lima Benua, sebuah nama yang unik persis dengan karakternya yang agresif. Lima Benua demikian nama yang akrab disapa ini mengaku, nama yang diberi orang tuanya ini dengan maksud agar dirinya dapat memiliki banyak teman bak luasnya sebuah benua dunia.

“Nama saya Temanku Lima Benua ini adalah nama yang dibuat orang tua saya agar saya memiliki ruang gerak yang luas seperti benua,” pungkasnya.

Lebih lanjut remaja kelahiran Klaten, 15 April 2002 ini berharap pemerintah, baik pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dapat memperhatikan karakter dan hasil karya anak bangsa.

“Saya berharap pemerintah bisa memperhatikan karakter dan hasil karya anak bangsa. Karena di daerah ini infrastruktur kurang memadai untuk event pameran. Maka itu saya minta agar pemerintah dapat membangun juga infrastruktur di daerah kami,” kata Lima Benua sekaligus mengakhiri pembicaraannya. (Arum)

Iklan Bawah Artikel


Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.