Iklan Atas Artikel
Sumber Foto Kabarbatam.com

Otoritasnews.co.id, Batam – Sebanyak tiga orang bocah meninggal dunia akibat tenggelam di kolam bekas galian yang terletak di Seitemiang, Kecamatan Sekupang, Rabu (19/6/2019) sekitar pukul 08.00 WIB.

Ketiga bocah tersebut, masing-masing Devi, Visel, dan Jefan. Mereka adalah warga ruli Kendal Sari, Seitemiang, Sekupang.

Devi dan Visel adalah kakak beradik, anak dari pasangan Teresia Avilata dan Videlis Baleng. Satu orang anak lainnya bernama Jefan adalah tetangga mereka berdua. Jefan merupakan anak dari Anastasia (ibu) dan Darius Tapo (ayah).

Advertise!Iklan Dalam Artikel

Saat ini ketiga jasad bocah itu sudah disemayamkan di rumah Videlis. Isak tangis keluarga serta kerabat yang datang masih terdengar dari luar rumah.

Informasi yang diterima dari warga sekitar, pagi tadi ketiga bocah tersebut sedang ikut Teresia mencari sayur kangkung. Saat Teresia mencari kangkung, ketiganya korban pergi bermain dan dikejar anjing.

“Habis itu si Devi kepeleset, masuk ke kolam. Visel sama Jefan pas mau menolong ikut masuk juga,” ujar warga.

Namun Kapolsek Sekupang Kompol Oji Fahrozi membantah informasi kalau para bocah itu dikejar anjing.

“Bukan dikejar anjing, itu anjing mereka kok,” kata Oji saat ditemui sedang meninjau tempat kejadian.

Oji menjelaskan, kronologi kejadian diawali ketika tiga bocah tersebut melihat seorang anak, Ali mandi-mandi di kolam tersebut. Merasa tertarik, ketiganya mencoba untuk mendekati Ali.

Ketika mendekat ke tepi kolam, Devi terpelesat dan jatuh ke kolam. “Dua lagi ini ikut nolongin, tapi ikut kepeleset juga,” ujar Oji.

Melihat ketiganya terjatuh ke dalam kolam, Ali yang juga masih bocah tidak berani menolongnya. Namun dia bergegas lari ke rumahnya dan meminta tolong ke orang yang ada di rumah.

“Pertama Devi sama Visel aja yang dapat, tapi Teresia ingat ada satu lagi yang tertinggal. Nyelam lagi dianya, dapat udah hampir masuk ke dalam lumpur,” ucap Oji seperti yang dilansir dari Kabarbatam.com.

Setelah berhasil diangkat, ketiganya sempat dibawa ke Rumah Sakit Graha Hermin, Pandawa, Batuaji. Namun nyawa ketiganya sudah tidak dapat tertolong lagi.

Ayah Jefan, Darius Tapo tampak sangat terpukul dengan kepergian anak satu-satunya itu. Rencananya, jenazah ketiga bocah malang itu akan dikebumikan esok.

Terkait penggalian pasir darat dikota Batam dibeberapa wilayah tidak menjadi rahas lagi, namun dinas lingkungan hidup setempat terkesan tutup mata adanya kegiatan tersebut.

Salah satu kegiatan yang diduga telah melakukan pengrusakan lingkungan selain sei Tamiang yang telah memakan korban, penggalian pasir darat terjadi juga didaerah nongsa, dan tembesi. Namun sampai dimana tindakan tegas dari DLH Batam.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Batam (DLHK), Herman Rozie mengatakan, Karena itu kewenangan provinsi, akan kita sampaikan kepada yang berwenang menangani sesegera mungkin, sehingga kalau memang, dan sebagai media yang profesional kami mohon juga untuk menanyakan ke pada provinsi, agar segera sampai infonya kepada yang menangani.

“Muda-mudahan dengan kerjasama tersebut, dampak yang lebih luas dapat segera diminimalisir,” Ucap Herman Rozie Melalui Pesan WhatsAppnya 20 Februari 2018 tahun lalu kepada Otoritasnews.co.id.

“Kami di Dinas lingkungan hidup (DLH) kota Batam bidang Wasdak sedang mengkaji langkah-langkah untuk mencegah kerusakan jika memang secara teknis lingkungan sudah diatas ambang toleransi kerusakannya,” ungkap Herman Rozie.

Herman Rozie kembali menjelaskan, Kehutanan dan tambang itu menjadi kewenangan provinsi. Jadi izin pun yang mengeluarkan provinsi dan satu lagi yang menjadi kewenangan provinsi adalah wilayah laut 0-12 mil,” jelasnya.

“Pada pasal 7 ayat 4, bahwasanya instansi lingkungan hidup ditingkat daerah kabupaten/kota berwenang mengelola pengaduan terhadap usaha dan atau kegiatan dalam hal izin di bidang lingkungan hidup diterbitkan oleh bupati/walikota,” Papar Herman Rozie.

Ditanyakan kembali, terkait izin yang dikeluarkan oleh provinsi, apakah DLH Kota Batam mengetahuinya, “Selama saya jadi pelaksana tugas PLT DLH Kota Batam belum pernah lihat. Karena setahu saya dari dulu juga kayaknya Dinas lingkungan hidup (DLH) tidak pernah mengeluarkan izin tapi nanti saya cek lagi lah ya,” tutup Herman Rozie.

Melihat dari berbagai pernyataan dari Kadis DLH Batam tersebut, keseriusan pemerintah kota Batam melalui dinas lingkungan terkesan tebang pilih dalam melakukan tindakan.

Akhmad Rosano Ketum Suara Rakyat Keadilan (SRK) angkat bicara terkait adanya penggalian pasir darat yang memakan korban, Walikota dan DLH Batam seharusnya tidak tebang pilih melakukan tindakan terkait lingkungan hidup.

“Walikota dan DLH Batam jangan hanya sibuk sidak plastik impor, tapi sidak dan tindakan tegas itu penggalian pasir darat ilegal di sei Tamiang dan dibeberapa wilayah dikota Batam,” Tegasnya.

Ia mengatakan, setelah adanya korban seperti ini, apa yang akan dilakukan pemerintah kota Batam.” Sudah ada korban, jadi apa yang akan dilakukan Pemko Batam dan DLH Batam, Ini harus jadi perhatian serius. Tindak semua penggalian pasir darat yang ada di kota Batam, jangan hanya plastik impor yang disidak,” Pungkasnya. (hsn)

Iklan Bawah Artikel

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.