Iklan Atas Artikel

Otoritasnews.co.id – Para petani bawang merah yang ada di Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, hanya bisa mengelus dada. Mereka dihantui dengan anjloknya harga jual bawang merah.

Memasuki panen raya ini, harga bawang merah terjun bebas. Saat ini harga bawang merah di tingkat petani hanya berkisar Rp6000/kg. Padahal, sebelumnya harga bawang merah mencapai Rp10.000/kg.

Advertise!Iklan Dalam Artikel

“Tahun ini harga bawang merah anjlok, padahal tidak ada impor bawang merah. Sekarang hanya Rp6.000/kg. Bahkan dua pekan lalu sempat turun sampai Rp4.000/kg,” kata Suryanto, petani bawang merah asal Dusun Made, Desa Pacet, Kecamatan Pacet, Kabupaten Mojokerto, Kamis (5/9/2019).

Petani berusia 52 tahun ini lantas bertutur. Anjloknya harga bawang merah disebabkan karena jumlah barang yang melimpah. Lantaran sejumlah daerah di Jawa Timur, dan Nusa Tenggara Barat (NTB) tengah panen raya.

Kondisi ini membuat para petani bawang merah hanya bisa gigit jari. Mereka pun dipastikan bakal merugi. Bahkan tidak sedikit petani yang kini kelimpungan hanya untuk bisa mengembalikan modal tanam.

“Harusnya seperti awal Januari sampai Juli lalu, harganya Rp8.000-9.000/kg. Sehingga petani bisa dapat untung. Kalau sekarang, balik modal saja sudah Alhamdulillah,” imbuhnya.

Senada dengan Suryanto, petani bawang lainnya, Supriyadi mengaku hanya bisa pasrah dengan turunnya harga bawang merah saat panen raya tahun ini.

Ia pun mengaku bakal mengalami kerugian yang cukup besar, lantaran harga jual bawang di tingkat petani hanya Rp6.000/kg.

“Kerugiannya bisa mencapai jutaan. Padahal tahun ini, hasil tanam bawang merah sangat bagus, 2 hektare lahan saya bisa mencapai 7 ton. Tapi karena harganya terlalu murah kami justru rugi,” jelas Supri yang sudah 27 tahun menjadi petani bawang merah.

Baik Supriyadi maupun Suryanto berharap, ada perhatian khusus dari pemerintah terhadap para petani bawang merah khususnya. Agar ada standarisasi harga, sehingga para petani tidak selalu merugi saat musim panen raya akibat harga bawang merah terjun bebas.

“Harapannya pemerintah bersedia membantu kami, dengan menaikkan harga di tingkat petani. Kalau bisa bantu petani untuk ekspor juga. Karena setiap panen raya selalu seperti ini, harganya hancur petani makin susah,” pungkas Supriyadi. (sindonews)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.