Iklan Atas Artikel

Otoritasnews.co.id – Pasca kekalahan Jokowi dua kali berturut-turut di Sumatera Barat pada konsestasi pemilu, muncul seruan boikot nasi Padang. Seruan itu kemudian viral di media sosial. Banyak netizen menyebutkan jika seruan itu merupakan seruan yang sesat.

Pasalnya, lidah masyarakat di Indonesia sudah sangat familiar dengan kelezatan nasi Padang dengan lauk pauk khas yang kaya akan bumbu rempah-rempah.

Advertise!Iklan Dalam Artikel

Menurut Peneliti Sejarahwan Sumatera Barat Maiza Elvira, fenomena pemboikotan nasi Padang pasca rendahnya hasil pemilihan untuk capres dan cawapres nomor urut 01 Jokowi-Ma’aruf Amin, sebenarnya merupakan fenomena yang biasa untuk mengekspresikan kekecewaan oleh pendukung 01.

Selain itu, aksi boikot memboikot produk makanan tidak hanya terjadi saat ini saja. Saat aksi 212 lalu sebelum pilkada DKI Jakarta, boikot Sari Roti juga sempat viral di media sosial. Boikot Sari Roti sebagai bentuk kekecewaan terhadap pemilik brand tersebut. Meski nyatanya, aksi boikot tersebut tidak berlangsung lama.

“Ini fenomena yang biasa untuk mengekspresikan kekecewaan oleh pendukung 01. Sama halnya dengan boikot Sari Roti dulu. Awal-awal viral, penurunan omset pastinya dirasakan oleh pemilik merek dagang tersebut. Namun seiring berjalannya waktu, boikot tersebut mulai memudar,” kata Maiza Elvira, Selasa 23 April 2019.

Menurut Maiza Elvira, pemilik warung nasi Padang terutama yang berada di basis utama pendukung Jokowi-Ma’aruf Amin harus bersabar untuk beberapa waktu jika kemudian boikot tersebut benar terjadi dan mempengaruhi omset harian warung nasi mereka. Dampak pendapatan dari penjualan nasi Padang di basis pendukung 01, barangkali akan terjadi. Tapi pasti itu tidak berlangsung lama.

“Ini hanya akan terjadi sementara saja. Hal ini disebabkan karena warung nasi Padang juga mempunyai peminat dan pendukung yang militan, seperti layaknya pendukung capres saat ini,” ujar Maiza.

Maiza berkelakar, khusus untuk pendukung militan 01 yang saat ini sangat kecewa dengan masyarakat Sumatera Barat, yang untuk kedua kalinya tidak mendukung Jokowi, barangkali bisa mengobati kekecewaannya dengan menyantap legitnya dendeng batokok dan sambalado. Dengan mencicipi nasi Padang, tentu saja akan mampu membuat rasa marah dan kecewa menguap begitu saja.

Diketahui, meski secara terang-terangan Jokowi-Ma’aruf Amin pada pemilu kali ini didukung 12 dari 19 kepala daerah, namun Jokowi tetap tumbang di Sumatera Barat. Bahkan perolehan suara merosot tajam dari Pilpres 2014. Data real count KPU 23 April 2019 pukul 09.45 WIB, Jokowi-Ma’aruf Amin hanya mampu meraup suara 13.29 persen, sementara Prabowo-Sandiaga Uno 86.71 persen. (viva)

Iklan Bawah Artikel


Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.