Iklan Atas Artikel

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.

 

Otoritasnews.co.id – Bagi penggemar masakan khas Sunda Restoran Mang Engking bisa jadi alternatif pilihan yang cukup tepat.

Advertise!Iklan Dalam Artikel

Restoran Mang Engking yang terletak di kompleks Kampus UI Depok telah menjadi primadona bagi masyarakat disekitar Depok.

Resto ini adalah Cabang Restoran Mang Engking yang ke 3 setelah yang pertama di Yogya dan kedua Pandaan Surabaya Jawa Timur.

“Kemungkinan karena Restoran Mang Engking Depok dekat dengan Jakarta maka lebih cepat terkenal,” ungkap Indra Adjianto Manager Emang Engking Cabang UI Depok kepada Otoritasnews beberapa waktu lalu saat diwawancarai.

Dengan luas area 5.000 m2 diatas danau buatan, Mang Engking menyajikan konsep khas Sunda yaitu makan diatas kolam ikan. Pelanggan juga dapat berinteraksi langsung dengan satwa air tersebut sambil memberi makan; ditambah dengan yang tak kurang menarik lagi yaitu bisa melakukan fish teraphi atau teraphi ikan, dengan menyelupkan kaki kita kekolam dan ikan ikan kecil akan menggelitik kaki kita yang akan menimbulkan rasa santai.

“Mang Engking Resto UI berdiri 30 Maret 2007 (hampir 12th), Awalnya Mang Engking mendirikan restoran di Jogjakarta kemudian kerjasama dengan UI yang notabene dekat Jakarta sehingga orang orang lebih cepat tau, Alhamdulillah dalam perjalanannya Mang Engking Depok UI yang merupakan cabang ke 3 (sekarng sudah 24 cabang, red), dapat berjalan sukses,” kata Indra.

Untuk diketahui Restoran Mang Engking pertama Jogjakarta kedua Pandaan Surabaya dan ketiga UI Depok.

“Konsep yang ditawarkan pertama dari menu masakan khas Sunda meskipun awal kariernya dari Jogja, karena memang Mang Engking aslinya orang Sunda kelahiran Banjar Jawa Barat,” tegasnya.

Kedua Family Resto atau Restoran Keluarga dimaksudkan agar generasi kedepan juga mengenal Budaya Sunda lampau disajikan diatas gubuk, khas Sundanya adalah makan diatas kolam ikan dan itu ternyata menguntungkan dari sisi market .

“Memang makan diatas kolam ikan bahkan beriteraksi dengan ikan, ternyata ini membuat orang suka dengan konsefnya Mang Engking,” tegas Indra.

Untuk restoran sebagai Family Resto Mang Engking juga menyiasati bagaimana caranya anak anak bisa senang disini, dengan satu konsef membuat kebun aneka buah buahan, tanaman sayuran, cuma ivent seperti ini relatif pada musimnya.

Mang Engking Resto buka dari jam 10 sampai jam 9 malam, ini karena ikut kegiatan Universitas Indonesia, pada jam 9 seluruh kegiatan pendidikan selesai.

Indra menerangkan bohwa omzet harian Mang Engking kurang lebih 15 Jutaan Rupiah, sedangkan bulanannya hampir 500 Juta Rupiah.

“Luas area Mang Engking UI Depok 5.000 meter lahan yang disulap jadi danau buatan sebagaimana kosep Mang Engking. Sebenarnya konsep standarnya 10.000 meteran karena sebagian kita manfaatkan untuk parkiran , kebetulan disini bisa parkiran dipinggiran,” imbuhnya.

Indra mengisahkan, Mang Engking (54 th) pria kelahiran Banjar Jawa Barat , adalah seorang petani ikan pasca bom Bali tahun 2004. Tahun 2005 Mang Engking terkena imbasnya, disebabkan pabrik sudah tidak bisa terima hasil panen ikan Mang Engking.

Dari sanalah mulai coba bikin warung warung kecil, kemudian sukses, sampai sampai dari hasil kolam Pak Engking tidak cukup untuk suplay restoran restoran disana. Sehingga terkadang kita ambil dari Jawa Barat Banjar Ciamis bahkan sampai ke Tarakan Kalimantan, sedangkan untuk Udang dari Jawa Timur, Gurame Tulung Agung karena harganya disana memang relatif lebih murah, jelas Indra.

Menu Unggulan Mang Engking

Masakan Khas Menu unggulan pertama adalah Udang Bakar Madu, pada awalnya yang kita pakai adalah Udang Jala (Udang air tawar), yang pada saat itu Mang Engking melakukan budidaya pembesarannya.

Kebetulan istrinya suka masak dan mungkin punya resep dari leluhurnya kemudian coba dikembangkan.

Ternyata menghasilkan suatu menu yang khas Udang Bakar Madu dengan rasa manis, pedas gurih dengam komposisi yang hingga sekarang selalu menjadi nomor satu.

Kedua Gurame yang khas dan banyak diminati adalah Gurame Bakar Kecap dan Gurame Cobek.

Gurane Bakar Kecap mungkin umum tapi dengan sentuhan bumbu Ibu Haji Engking rasanya memang lain.

Gurame Cobek biasanya ibu ibu yang suka karena disana Gurame Gorengan dengan bumbu kuah cobek itu manis, gurih, pedas kecuali bapak bapak yang tidak suka pedas.

Indra menjelaskan dari kesemua cabang Mang Engking selalu mengutamakan konsep lingkungan, bahkan semakin kemari selalu lebih bagus, seiring dengan perkembangan teknologi konsep Mang Engking selalu lebih bagus juga tentunya karena tuntutan konsumen. (daus)

Iklan Bawah Artikel

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.